- Pedagogik, artinya saya harus memahami bagaimana cara mengajar yang baik, sistematis dan mudah untuk difahami oleh murid ;
- Kepribadian, artinya saya harus memiliki dedikasi dan integritas yang baik dengan menampilkan nilai-nilai kebajikan serta memegang teguh kode etik guru;
- Sosial, artinya saya harus peka terhadap perkembangan zaman serta mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Setelah saya memahami konsep pendidikan, kemudian guru bermutu (nilai, peran dan kompetensi) maka selanjutnya saya harus mampu melihat potensi yang ada untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang unggul. Sehingga sebagai guru saya mampu merumuskan visi sekaligus prakarsa perubahannya secara konkret, detail, terukur dan perprogram.
Program perubahan dimaksud di atas, dalam konteks pelaksanaan kegiatan sehari-hari harus mencerminkan suatu sikap / kegiatan yang terbiasa (habituasi). Dalam praktiknya, saya sebagai guru menemukan budaya negatif yang ada di sekolah, misalnya budaya telat masuk kelas. Untuk merubah budaya negatif menjadi positif ini dibutuhkan suatu strategi yang efektif. Kita menyadari bahwa secara umum generasi Z adalah generasi yang cepat berubah serta tidak mau disalahkan. Maka konsep perubahan yang diperlukan bisa menerapkan teori kontrol, artinya perubahan dibangun berdasarkan kesadaran dari dalam diri (intrinsik) bukan dari faktor paksaan.
Secara teknis penerapannya bisa dilakukan sebagai berikut :
- Saya harus memenuhi 5 kebutuhan dasar murid terkait pembelajaran ;
- Posisikan diri saya sebagai manajer ;
- Terapkan segitiga restitusi dalam menangani murid bermasalah ;
- Bangun keyakinan kelas secara bersama ;
- Murid diberikan pemahaman, bahwa segala hal yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita, sehingga mereka termotivasi untuk melakukan kebajikan yang niatnya untuk perbaikan diri, bukan karena takut dihukum atau menginginkan hadiah ;
- Laksanakan keyakinan kelas dan kebajikan itu sehingga terwujud disiplin positif ;
- Lakukan disiplin positif secara terus menerus sehingga menjadi budaya positif.
B. REFLEKSI
- Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan
Yang saya fahami terkait materi budaya positif ini intinya adalah menerapkan teori kontrol, yaitu bagaimana membangun budaya positif murid yang bersumber dari kesadaran dan keyakinan dalam diri murid itu sendiri intrinsi tanpa ada paksaan dari siapapun. Gambaran pemahamannya sebagai berikut :
- Disiplin positif adalah suatu sikap baik yang mencerminkan nilai-nilai kebajikan. Nilai-nilai kebajikan diantaranya tergambar pada profil pelajar pancasila ;
- Teori kontrol adalah bagaimana murid mampu melakukan perubahan bersifat positif;
- Motivasi murid dalam melaksanakan kebajikan yang baik bersumber pada keyakinan dirinya bahwa kebajikan itu adalah kebutuhannya sebagai manusia. Motivasi muncul bukan karena mengharap penghargaan atau menghindari hukuman;
- Posisi kontrol guru yang terbaik adalah sebagai "manajer", karena ia akan mampu melihat kekurangan sekaligus kelebihan murid serta mengarahkan kesalahan murid untuk diubah menjadi baik atas dasar kesadaran dan keyakinan murid itu sendiri ;
- Kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi agar murid fokus dalam mengikuti pembelajaran. Jadikan murid tidak punya alasan untuk tidak fokus belajar, karena semua kebutuhan belajarnya terpenuhi. Kebutuhan dimaksud diantaranya : bertahan hidup, kasih sayang, kekuasaan, kebebasan dan kesenangan ;
- Keyakinan kelas adalah bentuk kesepakatan kelas yang bersifat positif, mengarahkan murid untuk sadar terhadap nilai-nilai kebajikan ;
- Segitiga restitusi adalah metode perbaikan diri dengan mengarahkan perbaikan itu bersumber dari dalam diri sipelaku. Tahapannya dimulai dari : menstabilkan identitas, memvalidasi kesalaha, mengkonfirmasi keyakinan.
Hal yang paling menarik mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif ini adalah bagaimana merubah kesalahan menjadi sebuah perbaikan diri atas kesadaran pelaku serta menjadi keyakinan positif yang diterapkan dalam keseharian (disiplin positif). Disiplin positif ini bila dibiasakan akan menjadi budaya positif. Saya menyimpulkannya bahwa dibutuhkan pendekatan psikologis dan komunikasi.
2. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam
menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah
mempelajari modul ini?
Perubahan yang paling mendasar adalah merubah pola hukuman menjadi restitusi.
3. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait
penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di
lingkup kelas maupun sekolah Anda?
- Pengalaman dalam lingkup kelas diantaranya penerapan "kesepakatan kelas", yang melahirkan "konsekuensi" atas pelanggarannya;
- Pengalaman dalam lingkup sekolah dalam memimpin perumusan visi dan misi sekolah yang berpihak pada kebutuhan belajar murid dan diantara misinya adalah budaya on time dan full time ;
4. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?
- Pengalaman dalam lingkup kelas : awalnya saya merasa berhasil, karena adanya peningkatan kedisiplinan masuk kelas ketika pelajaran saya. Namun ada juga murid yang tetap "membandel", akhirnya kesepakatan kelas ini seolah kurang kuat dan mengakibatkan murid lainnya berfikiran sama untuk tidak disiplin;
- Pengalaman dalam lingkup sekolah : saya senang karena bisa berperan aktif dalam perumusan visi, namun dalam tahap implementasi visi masih banyak kekurangannya.
5. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep
tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu
diperbaiki?
- Hal yang sudah baik adalah adanya langkah-langkah restitusi yang dijalankan,namun belum sampai tuntas ;
- Hal yang perlu diperbaiki adalah penyelesaian langkah restitusi sampai bagaiamana pelaku kesalahan menyadari kesalahannya dan mampu membentuk keyakinan positif dalam dirinya.
6. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid,
berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda
pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari
modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda
sekarang? Apa perbedaannya?
- Sebelum mempelari modul ini, posisi kontrol saya sebagai guru adalah penghukum dan membuat merasa bersalah. Perasaan saya dengan posisi ini tidak nyaman, karena seolah saya semakin menjaga jarak dengan murid. Pernah beberapakali sebagai pemantau dengan membuat kesepatakan kelas, namun kesepakatan kelas hanya bertahan beberapa minggu.
- Setelah mempelajari modul ini, posisi kontrol saya sebagai guru berusaha pada posisi manajer. Saya berusaha melakukan pendekatan persuasif pada murid yang melanggar, serta pendekatan psikologis untuk mengetahui kebutuhan dasar apa yang belum dipenuhinya, kemudian merumuskan strategi dalam menyusun langkah segitiga restitusinya.
7. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan
segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika
iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda
mempraktekkannya?
Pernah sampai pada tahap memvalidasi kesalahan. Memvalidasi kesalahan dikaitkan dengan kesepakatan kelas yang telah dibuat, sehingga murid dikenakan konsekuensi. Misalnya, kesepakatan kelas ketika pelajaran saya adalah tidak boleh telat masuk kelas lebih dari 5 menit dan bila melanggar, maka secara otomatis murid belajar diluar kelas. Hal ini berdampak pada kedisiplinan murid, namun tidak menjadikan murid menyadari pentingnya disiplin waktu, sehingga sesekali beberapa orang masih saha melanggar.
8. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah
hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses
menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
Menurut saya penerapan segitiga restitusi dalam menciptakan budaya positif tidak bisa disamaratakan bagi semua jenjang pendidikan, lingkungan satuan pendidikan dan kondisi satuan pendidikan. Segitiga restitusi adalah metode baik dalam membangun kesadaran diri untuk menjadi lebih baik, namun terkadang di tempat dan pada situasi tertentu hal ini sulit untuk dibentuk. Menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan disiplin positif, khususnya disatuan pendidikan saya :
- Adanya kesadaran bersama antara pihak pemerintah, sekolah dan masyarakat terkait pentingnya penyelenggaraan pendidikan bermutu berbasis kedisiplinan. Ruang kolaborasi ini penting untuk membahas kondisi dan permasalahan yang ada disekolah untuk merumuskan solusinya secara bersama-sama;
- Hal terpenting lainnya adalah bagaimana guru fokus pembelajaran di sekolah. Dalam hal ini misalnya, bagaimana pemerintah memberikan hak-hak kepegawaian lainnya bagi guru.