TERGERAK - BERGERAK - MENGGERAKAN

Terus melangkah untuk Pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Fasilitator dan Pengajar Praktik

Terima kasih atas bimbingannya, semoga Alloh membalas segala kebaikan ibu.

KOLABORASI TIM HEBAT

Mari kita berkolaborasi, menata pendidikan Indonesia yang lebih baik

Ilmu adalah Cahaya

Kejarlah ilmu sekuat mungkin, semakin berilmu, maka beramal akan semakin bermutu

Jumat, 29 November 2024

Modul 3.3 : Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid

Modul 3.3. ini membahas materi tentang pengelolaan program yang berdampak positif bagi murid. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 05 November sampai 22 November 2024. Alur kegiatanya adalah MERDEKA dengan rincian kegiatan sebagai berikut : 


 Mulai dari Diri

Kegiatan ini dilaksanakan  secara mandiri pada tanggal 05 Novemver  2024 . Kegiatannya mengisi  soal di LMS. 

Eksplorasi Konsep 
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 06,07 dan 08 November 2024. Bentuk kegiatannya adalah mengeksplorasi materi tentang pengelolaan program yang berdampak positif pada murid. Mengisi tugas dan berdiskusi di LMS dengan rekan CGP lainnya. Rangkuman materi dapat lihat disini

Ruang Kolaborasi
Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan bimbingan fasilitator dan pengajar praktik pada tanggal 11 dan 12 November 2024, untuk due date pengumpulan tugas tanggal 15 November 2024.  Bentuk kegiatannya adalah menyusun program sekolah dengan diagram Y (Voice, Choice dan Owner). Kemudian dipresentasikan dalam satu kelas untuk ditanggapi kelompok lain. Presentasi bergiliran dengan kelompok lain.  Hasil kegiatannya dapat dilihat disini

Demonstrasi Kontekstual  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 13 dan 14 November  2024, due date pengumpulan tugas pada tanggal 19 November 2024. Bentuk kegiatannya adalah menyusun program sekolah dengan alur BAGJA . Hasilnya dapat dilihat disini.

Elaborasi Pemahaman
Kegiatan ini dilaksanakan bersama instruktur pada tanggal 18 November  2024. Bentuk kegiatannya adalah membangun kerangka berfikir tentang modul. Tidak ada penugasan pada tahap ini. 

Koneksi Antar Materi  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 18  Novemvber 2024. due date pengumpulan tugas pada tanggal 22 November 2024. Bentuk kegiatannya adalah membuat konsep hubungan materi modul 3.3 dengan materi-materi sebelumnya. Hasil kegiatan dapat dilihat  Kesini . 

Aksi Nyata   
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 19-22 November 2024. Bentuk kegiatannya merefleksi kegiatan penyusunan program pada tahan Buat Pertanyaan dan Ambil Pelajaran dari alur BAGJA. Hasilnya dapat dilihat  disini


Jurnal Dwimingguan  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 16 November  2024. Bentuk kegiatannya adalah merefleksikan kegiatan selama 2 minggu dalam mempelajari modul 3.3s Jurnal refleksinya dapat dilihat disini.

Senin, 28 Oktober 2024

Modul 3.2. Pengembangan Sumber Daya

Modul 3.2. ini membahas materi tentang pengembangan sumber daya sekolah berdasarkan aset / kekuatan yang dimiliki. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 23 Oktober 2024 sampai 04 November 2024. Alur kegiatanya adalah MERDEKA dengan rincian kegiatan sebagai berikut : 

 Mulai dari Diri

Kegiatan ini dilaksanakan  secara mandiri pada tanggal 23 Oktober  2024 . Kegiatannya mengisi 7 soal di LMS. 

Eksplorasi Konsep 
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 23 dan 24 Oktober 2024. Bentuk kegiatannya adalah mengeksplorasi materi tentang pengembangan sumber daya sekolah berbasis aset. Bentuk kegiatannya adalah menjawab 4 soal dan mengisi tugas dalam mengkaji kasus, serta berdiskusi di LMS. Rangkuman materi dapat lihat disini

Ruang Kolaborasi
Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan bimbingan fasilitator dan pengajar praktik pada tanggal 25 dan 28 Oktober 2024, untuk due date pengumpulan tugas tanggal 31 Oktober 2024.  Bentuk kegiatannya adalah  menyusun strategi pengembangan sumber daya sekolah berdasarkan aset daerah yang ada. Kemudian dipresentasikan dalam satu kelas untuk ditanggapi kelompok lain. Presentasi bergiliran dengan kelompok lain.  Hasil kegiatannya dapat dilihat disini

Demonstrasi Kontekstual  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 29 dan 30 Oktober  2024, due date pengumpulan tugas pada tanggal 01 November 2024. Bentuk kegiatannya adalah menganalisis visi dan misi prakarsa perubahan yang ada di video, kemudian mengidentifikasi alur BAGJA, mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran dan menganalisis modal utama yang dimanfaatkan. . Hasilnya dapat dilihat disini.

Elaborasi Pemahaman
Kegiatan ini dilaksanakan bersama instruktur pada tanggal 01 November  2024. Bentuk kegiatannya adalah membangun kerangka berfikir tentang modul. Tidak ada penugasan pada tahap ini. 

Koneksi Antar Materi  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 31 Oktober  dan 01 Novemvber 2024. due date pengumpulan tugas pada tanggal 06 November 2024. Bentuk kegiatannya adalah membuat konsep hubungan materi modul 3.2 dengan materi-materi sebelumnya. Hasil kegiatan dapat dilihat  Kesini . 

Aksi Nyata   
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 04 November 2024. Bentuk kegiatannya mengiidentifikasi secara kolaboratif bersama warga sekolah lainnya tentang aset/kekuatan yang dimiliki sekolah. Hasil kegiatan dapat dilihat disini.  


Jurnal Dwimingguan  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 02 November  2024. Bentuk kegiatannya adalah merefleksikan kegiatan selama 2 minggu dalam mempelajari modul 3.2 Jurnal refleksinya dapat dilihat disini.

Senin, 21 Oktober 2024

Koneksi Antar Materi Modul 3.1


KONEKSI ANTAR MATERI 

MODUL 3.1. PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI 

KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN 


Sejak dimulainya program guru penggerak angkatan 11 pada tanggal 13 Juni 2024 sampai saat ini, maka saya telah mempelajari 8 modul. Dari pembelajaran yang telah saya ikuti, banyak pengetahuan baru yang saya peroleh. Secara garis besar saya menyimpulkan bahwa:

  1. Modul 1 ( Sub modul 1.1, 1.2, 1.3 dan 1.4) tentang paradigma dan visi guru penggerak mempelajari teori pendidikan 
  2. Modul 2 ( Sub modul 2.1, 2.2 dan 2.3) tentang praktik pembelajaran yang berpihak pada murid mempelajari tentang praktik pembelajarannya;
  3. Modul 3 ( Sub Modul 3.1) tentang pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin, mempelajari tentang kepemimpinan pembelajaran.

Berikut rincian kesimpulan materi dari mulai modul 1.1 sampai modul terakhir 3.1 yang saya fahami. 

  1. Filosophi Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara. 
    Ki Hajar Dewantara mengartikan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Sementara tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
    Dari pernyataan Ki Hajar Dewantara tersebut di atas, maka saya menyimpulkan bahwa pendidikan adalah proses menggali potensi murid untuk tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Utuh dalam arti baik secara pengetahuan / keterampilan dan baik pula secara akhlak ( budi pekerti). Pendidikan bukan transfer pengetahuan dari guru kepada murid semata, namun jauh lebih dalam adalah bagaimana transformasi nilai-nilai kebajikan. Bagaimana menanamkan nilai-nilai kebajikan agar pada akhirnya tumbuh menjadi "generasi bermutu" dan siap berperan / berkontribusi positif bagi keluarga, lingkungan, bangsa dan negaranya. 

  2. Nilai dan Prinsip Guru Penggerak
    Dalam menjalankan tugas sebagai guru, maka perlu difahami nilai dan prinsip sebagai guru penggerak, diantaranya adalah :
    a. Nilai-nilai Guru Penggerak : 
        1) Mandiri 
        2) Reflektif 
        3) Kolaboratif 
        4) Inovatif 
        5) Berpihak pada murid
    Menurut saya, inti dari nilai-nilai guru penggerak adalah bagaimana kita sebagai pendidik berfokus pada kebutuhan belajar murid. Murid menjadi inti dari tujuan pembelajaran

    b. Peran Guru Penggerak 
        1) Menjadi pemimpin pembelajaran 
        2) Menggerakan komunitas praktisi 
        3) Menjadi coach bagi guru lain 
        4) Mendorong kolaborasi antar guru 
        5) Memajukan kepemimpinan murid 
    Berdasarkan point di atas, maka menurut saya peran guru penggerak intinya adalah bagaimana guru mampu menjadi "agen perubahan" kearah positif dilingkungan kelas / sekolah. 

  3. Visi Guru Penggerak 
    Seorang guru harus mampu membayangkan bagaimana murid dan sekolah kedepan menjadi lebih baik. Guru harus visioner dengan ide dan gagasan yang konstruktif. 

  4. Budaya Positif
    Manusia pada dasarnya bisa berubah karena salahsatu dari ketiga hal berikut, yakni : karena takut atas hukuman, karena mengharapkan penghargaan atau karena berubah merupakan panggilan jiwanya. Dari ketiga penyebab perubahan tersebut, maka yang terbaik adalah yang ketiga, yakni perubahan muncul atas dasar kesadaran dari dalam diri guru. Setelah guru mampu membuat target bagaimana murid / sekolah kedepannya, maka langkah selanjutnya adalah bagaiman guru mampu menginisasi pembiasan-pembiasaan baik. Bagaimana guru mampu merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. Dalam proses perubahan ini bisa menerapkan metode segitiga restitusi. 
    Selain itu, guru harus mampu berperan sebagai manajer dalam pembelajaran / kegiatan disekola. Guru juga harus mampu memahami dan memenuhi 5 dasar kebutuhan manusia, yaitu : bertahan hidup, kasih sayang, kebebasan, kesenangan dan penguasaan. 

  5. Pembelajaran Berdiferensiasi 
    Dalam praktik pembelajaran, maka guru dihadapkan pada berbagai kondisi murid. Bila dikategorisasi, maka keberagaman kondisi murid setidaknya berupa : kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar muri. Sementara dalam proses pembelajarannya, keberagaman pembelajaran (diferensiasi) bisa berupa : konten, proses atau produk. 
    Inti dari materi ini yang saya fahami adalah bagaimana guru memfasilitasi pembelajaran untuk semua murid tanpa terkecuali, sehingga setiap murid dapat mengembangkan potensi dirinya. 

  6. Pembelajaran Sosial dan Emosional 
    Materi ini menjelaskan bagaimana guru mampu menstimulus murid untuk dapat mengambangkan kompetensinya pada : kesadaran diri, manajemen diri, manajemen sosial, membangun relasi dan mampu mengambil keputusan dengan penuh tanggungjawab. 
    Inti dari materi ini yang saya fahami adalah bagaimana guru mampu menyajikan pembelajaran yang menstimulus murid untuk mampu mengelola emosinya serta mampu menjalin komunikasi sosial yang efekti, serta mampu membuat keputusan-keputusan tepat, berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan. 

  7. Coaching untuk Supervisi Akademik 
    Supervisi akademik merupakan kegiatan rutin bagi guru. Dimana pada pola sebelumnya, supervisi dilaukan untuk mengevaluasi kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran. Namun metode coaching bukanlah untuk mengevaluasi, namun bagaimana seorang coachee (guru yang diobservasi) dapat menemukenali kekurangan dirinya, kemudian secara sistematis mampu merumuskan upaya perbaikannya. Sehingga setiap guru mampu mengembangkan kompetensi dirinya menjadi lebih baik lagi secara berkelanjutan. 

  8. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
    Selanjutnya guru diharapkan mampu membuat keputusan-keputusan terbaik pada kondisi dilematis. Dilema etika adalah dua atau lebih kondisi / permasalahan yang dihadapi yang statusnya sama-sama benar. Dalam kondisi seperti ini, guru harus mampu merumuskan langkah-langkah ilmiah untuk menentukan keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah: 
a.  Prinsip Pengambilan Keputusan 
     1) Berfikir berbasis pada hasil akhir
     2) Berfikir berbasis peraturan 
     3) Berfikir berbasis rasa peduli 
b.  Paradigma Dilema Etika 
     1) Individu VS kelompok
     2) Rasa keadilan VS rasa kasihan 
     3) Kebenaran VS kesetiaan 
     4) Jangka pendek VS jangka panjang 
c.  Langkah Pengambilan Keputusan 
     1) Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
     2) Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
     3) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
     4) Pengujian benar atau salah : uji legal, regulasi, intuisi, publikasi, panutan 
     5) Pengujian Paradigma Benar lawan Benar
     6) Melakukan Prinsip Resolusi
     7)  Investigasi Opsi Trilema
     8) Buat Keputusan

Berdasarkan materi terkait dengan pengambilan keputusan sebagaimana ditulis diatas, berikut adalah inti materi yang saya fahami : 
  • Dalam menjalankan tugas sebagai guru, terkadang kita dihadapkan pada dilema permasalahan yang membuat kita bingung harus membuat keputusan seperti apa. maka pada kondisi ini kita harus fokus pada nilai / prinsip utama yang dipegang;
  • Keputusan yang diambil harus memperhatikan kondisi lingkungan dan berbagai aspek penilaian (teori optimasi);
  • Tantangan lingkungan yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan sebagai guru adalah keberagaman tingkat disipilin murid serta kepedulian orangtua murid terkait dengan pendidikan, hal ini penting untuk dikaji karena perubahan yang digagas membutuhkan berbagai strategi yang kadang harus bersifato out of the box, serta pelibatan orangtua yang sulit terwujud. 
  •  Kendala dalam memfasilitasi murid yang beragam dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi harus terus dicoba, sehingga pada akhirnya akan membuka pola yang paling tepat sesuai dengan kondisi
  • Keputusan kita sebagai guru hari ini, bisa berdampak bagi kehidupan masa depan murid. Misalnya murid yang nakal / jarang masuk, bila kita vonis dikeluarkan dari sekolah, maka dimungkinkan hal ini akan berbekas dan menjadi catatan sejarah bagi murid tersebut. Disisi lain ini dimungkinkan bila murid tersebut tidak melanjutkan sekolah di sekolah lain, maka dia tidak akan memiliki ijazah SMK / sederajat, hal ini menghambat karier / pekerjaannya dimasa yang akan datang;
  • Kesimpulan dari pembelajaran yang telah saya pelajari selama 8 modul ini adalah pada modul 1 saya mempelajari tentang konsep pendidikan yang berpihak pada murid. Pada modul 2, saya mempelajari teknis praktis pembelajaran yang berpihak pada murid. Pada sub modul 3.1 ini saya mempelajari tentang bagaimana seorang pemimpin pembelajaran mampu membuat keputusan-keputusan baik berdasarkan langkah-langkah ilmiah . 
  • Sebelum mempelajari modul ini, dalam beberapa hal saya mengambil keputusan dengan mengidentifikasi permasalahan berdasarkan konteks Benar / Baik. 
  • Setelah saya mempelajari modul ini, saya mendapatkan pemahaman baru diantaranya adalah pentingnya menerapkan prinsip dalam mengambil keputusan serta langkah-langkah pengambilan keputusannya yang paling tepat. 
  • Menurut saya, sangat penting kita sebagai guru untuk mempelajari modul ini, karena dengan memahami materi ini kita akan mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat dan bijak. 

Kamis, 17 Oktober 2024

Modul 3.1 : Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebaikan Sebagai Pemimpin


Modul 3.1.  ini  membahas materi tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebaikan sebagai pemimpin. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 09 Oktober sampai 22 Oktober 2024 . Alur  kegiatannya adalah : Mulai dari DiriEksplorasi KonsepRuang KolaborasiDemonstrasi Kontekstual, Elaborasi PemahamanKoneksi Antar Materi dan Aksi Nyata (MERDEKA)                                                                                     

Pre Test
Kegiatan ini dilaksanakan  secara mandiri pada tanggal 09 Oktober 2024.

 Mulai dari Diri
Kegiatan ini dilaksanakan  secara mandiri pada tanggal 09 Oktober  2024 dengan mempelajari   modul. . Modul dan rangkuman materi yang saya susun dapat dilihat disini

Eksplorasi Konsep 
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 09,10,11 Oktober 2024. Bentuk kegiatannya adalah mengeksplorasi materi tentang bagaimana seorang pemimpin mengambil keputusan yang tepat. 

Ruang Kolaboras
Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan bimbingan fasilitator dan pengajar praktik pada tanggal 14 dan 15 Oktober 2024, untuk due date pengumpulan tugas tanggal 18 Oktober 2024.  Bentuk kegiatannya adalah  membuat alur / skenario tentang dilema etika dan pengambilan keputusannya. Kemudian dipresentasikan dalam satu kelas untuk ditanggapi kelompok lain. Presentasi bergiliran dengan kelompok lain.  Hasil kegiatannya dapat dilihat disini

Demonstrasi Kontekstual  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 16 dan 17 Oktober  2024, due date pengumpulan tugas pada tanggal 22 Oktober 2024. Bentuk kegiatannya adalah membuat video wawancara kepada 2 orang Kepala Sekolah tentang pengambilan keputusan dilema etika. Hasilnya dapat dilihat disini.

Elaborasi Pemahaman
Kegiatan ini dilaksanakan bersama instruktur pada tanggal 22 Oktober  2024. Bentuk kegiatannya adalah membangun kerangka berfikir tentang modul. Tidak ada penugasan pada tahap ini. 

Koneksi Antar Materi  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 18 dan 21 Oktober   2024. due date pengumpulan tugas pada tanggal 24 Oktober 2024. Bentuk kegiatannya adalah menjawab 4 soal di LMS dan membuat rangkuman materi dikirim Kesini

Aksi Nyata   
Kegiatan ini berupa diskusi dengan CGP lain di LMS tentang materi yang telah dibahas. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2024. Kegiatannya berupa diskusi diruang LMS. 


Jurnal Dwimingguan  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 12 Oktober  2024. Bentuk kegiatannya adalah merefleksikan kegiatan selama 2 minggu dalam mempelajari modul 3.1 Jurnal refleksnya dapat dilihat disini.

Modul 2.3. Coaching untuk Supervisi Akademik


Modul 2.3 ini  membahas materi tentang coaching untuk supervisi akademik. Kegiatan in dilaksanakan dari tanggal 18 September sampai 08 Oktober 2024 . Alur  kegiatannya adalah : Mulai dari DiriEksplorasi KonsepRuang KolaborasiDemonstrasi Kontekstual, Elaborasi PemahamanKoneksi Antar Materi dan Aksi Nyata (MERDEKA) dengan diakhiri oleh kegiatan pengisian Jurnal Refleksi Dwimingguan                                                                                    

     Mulai dari Diri

Kegiatan ini dilaksanakan  secara mandiri pada tanggal 18 September  2024 dengan mempelajari   modul. . Modul dan rangkuman materi yang saya susun dapat dilihat disini

 

Eksplorasi Konsep 
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 18,19,20,23 dan 24 September 2024. Bentuk kegiatannya adalah mengeksplorasi materi tentang bagaimana coaching dalam supervisi akademik. Disajikan video dan referensi bacaan sebagai referensi mempertajam pemahaman terkait materi. Hasil pengerjaan tugas dapat dilihat disini.

 

Ruang Kolaborasi
Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan bimbingan fasilitator dan pengajar praktik pada tanggal 25 dan 26 September 2024, untuk due date pengumpulan tugas tanggal 01 Oktober 2024.  Bentuk kegiatannya adalah  membuat alur / skenario tentang coaching. Kemudian dipresentasikan dalam satu kelas untuk ditanggapi kelompok lain. Presentasi bergiliran dengan kelompok lain.  Hasil kegiatannya dapat dilihat disini

 

Demonstrasi Kontekstual  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 30 September  2024, due date pengumpulan tugas pada tanggal 03 Oktober 2024. Bentuk kegiatannya adalah membuat video coaching dengan 1 kelompok terdiri dari 3 orang. Hasilnya dapat dilihat disini.

 

Elaborasi Pemahaman
Kegiatan ini dilaksanakan bersama instruktur pada tanggal 03 Oktober  2024. Bentuk kegiatannya adalah membangun kerangka berfikir tentang modul. Tidak ada penugasan pada tahap ini. 

 

Koneksi Antar Materi  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 02 Oktober   2024. due date pengumpulan tugas pada tanggal 08 Oktober 2024. Bentuk kegiatannya adalah membuat konsep keterkaitan materi dengan konsep di LMS.  Laporan koneksi antar materi dapat dilihat  disini. 


Aksi Nyata   
Kegiatan ini berupa membuat video supervisi akademik dengan metode coaching. Dilaksanakan secara mandiri mulai tanggal 03-08 Oktober 2024.  due date pengumpulan video pada tanggal 23 November 2024. Laporan hasil kegiatannya dapat dilihat disini. 

 

Jurnal Dwimingguan  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 28 September  2024. Bentuk kegiatannya adalah merefleksikan kegiatan selama 2 minggu dalam mempelajari modul 2.3. Jurnal refleksnya dapat dilihat disini.

Senin, 07 Oktober 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

 PRAKTIK PEMBELAJARAN 

YANG BERPIHAK PADA MURID 


Materi pembelajaran pada modul 2 adalah tentang  praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Modul ini dijabarkan dalam 3 modul, yaitu : 
  1. Modul 2.1 : Memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran berdiferensiasi 
  2. Modul 2.2  : Pembelajaran sosial dan emosional
  3. Modul 2.3  : Coaching untuk supervisi akademik

A. REFLEKSI KEGIATAN MODUL 2
      Saya mendapatkan pemahaman dan pengalaman baru terkait dengan materi yang dipelajari pada modul 2 ini. Sebelumnya saya  memposisikan semua murid saya, sehingga strategi, media dan bentuk tugas yang saya berikan pun sama untuk semua murid ( dalam satu tingkat ). Namun setelah saya mempelajari modul 2 di kegiatan Calon Guru Penggerak (CGP) ini, saya berpandangan bahwa setiap murid memiliki kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar yang mungkin berbeda, sehingga saya harus meramu pembelajaran yang dapat menjangkau seluruh potensi murid untuk dapat bertumbuh kembang. Variasi pembelajaran bisa berupa materi, proses belajar atau produk hasil belajar murid. Hal ini saya fahami setelah mempelajari modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi. 
        Selain hal tersebut di atas, sebelum mempelajari modul 2.2 tentang pembelajaran sosial dan emosional, saya berpandangan bahwa pembelajaran hanyalah transfer pengetahuan dan sikap secara umum saja. Namun setelah saya mempelajari modul 2.2 ini, saya berpandangan bahwa pengembangan pengelolaan emosi murid sangat perlu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran. Bagaimana murid mampu memiliki kesadaran diri, mampu mengelola emosi diri, mampu membangun kesadaran sosial, mampu membangun relasi dengan komunikasi efektif serta mampu membuat keputusan-keputusan yang bertanggungjawab. 
       Selama ini saya memahami bahwa supervisi akademik yang dilakukan oleh Kepala Sekolah / Tim Penilai Kinerja Guru (PKG) adalah proses evaluasi kompetensi guru dalam kegiatan pembelajaran, namun setelah saya mempelajari modul 2.3 tentang coaching untuk supervisi akademik, maka saya berpandangan bahwa supervisi dengan metode coaching adalah metode menggali kekurangan guru serta solusi pengembangan potensinya secara mandiri. Proses wawancara yang dilakukan coach merangsang coachee untuk mampu memahami kondisi / masalah dihadapi serta menggali solusi secara mandiri dari coachee.
        Selama dan setelah saya mempelajari modul 2 ini, secara umum saya merasa senang dan tertantang untuk mengimplementasikan pemahaman kedalam pembelajaran riil di kelas. Namun ketika awal mempelajari modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi dan modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya merasa kesal karena tuntutan seorang guru ternyata berat, karena fokus pembelajaran bukan kelas tapi individu murid. Saya merasa bahwa guru tidak bisa mengerjakan tugas lain, seperti administrasi yang menumpuk, karena energi dan fikiran guru adalah bagaimana setiap murid mampu belajar dan mengembangkan potensi dirinya. Setelah menjelang selesai mempelajari modul, saya mulai memahami bahwa untuk merealisasikan pembelajan berdiferensiasi dan berbasis sosial emosional dibutuhkan strategi pembelajaran yang tepat. Atas hal ini saya merasa tertantang untuk mengembangkan kompetensi terkait pedagogik saya sebagai guru. 
        Hal yang sudah baik terkait kegiatan modul 2 yang saya ikuti ini diantaranya adalah saya aktif berpartisipasi dan berbagai dalam LMS, ruang kolaborasi, chat grup whatsappdan dalam proses pembuatan video coaching. Selain itu saya juga aktif ketika mengikuti kegiatan lokakarya, saya pernah melakukan praktik mengajar didepan Pengajar Praktik dan Calon Guru Penggerak lainnya. 
    Hal yang masih perlu untuk saya perbaiki dan kembangkan terkait pembelajaran pada materi modul 2 ini diantaranya adalah pemahaman terkait dengan teori-teori komunikasi efektif dan psikologi kependidikan. Kedua teori ini menurut saya penting, karena sangat mendukung terjadinya hubungan baik dalam kegiatan supervisi yang membangun serta ketajaman rasa dan logika dalam menyusun pertanyaan saat coaching. 
    Materi modul 2 ini sangat mendukung saya dalam mengembangkan kompetensi diri sebagai guru.    Kompetensi yang tersebut diantaranya adalah : pertama, kompetensi pedagogik dengan mempelajari materi diferensiasi. Kedua, kompetensi sosial dan kepribadian dengan mempelajari materi pembelajaran sosial / emosional. Ketiga, kompetensi manajerial dengan mempelajari coaching dalam kegiatan supervisi akademik. 


B.  ANALISIS IMPLEMENTATIF   MODUL 2
      Selama mengikuti pembelajaran pada modul 2 ini, saya memiliki beberapa pertanyaan kritis terkait dengan materi yang dipelajari, diantaranya : 
  1. Berdasarkan kesiapan belajar murid, apakah tujuan pembelajaran harus berbeda untuk setiap murid ? Bagaimana pula terkait dengan proses pembelajarannya jika tujuannya berbeda ?
  2. Dengan memasukan unsur Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), bukankah dimenasi Profil Pelajar Pancasila (P3) juga termasuk pengembangan sikap bagi murid ?
  3. Apakah setiap guru yang disupervisi bisa menjabarkan kekurangan serta solusi perbaikan secara mandiri ? Mungkinkah nilai kepastian terkait kebenaran menjadi "semu", karena seperti orang yang sakit, maka dia sendiri yang harus meramu  obatnya?
       Pertanyaan-pertanyaan itu muncul difikiran saya, kemudian setelah selesai mempelajari modul dengan alur MERDEKA, saya mencoba mengkaji kembali dan merumuskannya menjadi satu konsep materi yang utuh, diantaranya : 
  1. Terkait dengan tujuan pembelajaran dalam konsep pembelajaran berdiferensiasi. Setelah saya menuntaskan mempelajari modul 2.1, saya mengaitkan realita lapangan dengan teori yang dipelajari, maka kesimpulan saya adalah tujuan pembelajaran adalah target tetap yang harus dicapai oleh setiap murid, sehingga tujuan pembelarajaran adalah tujuan per kelas. Adapun yang menjadi variasi (diferensiasi) dalam pembelajaran adalah : konten (materi), proses dan produk hasil pembelajaran. Untuk melihat / memetakan diferensiasinya bisa dilihat dari : kesiapan belajar murid, minat belajar murid dan profil belajar murid. 
  2. Terkait dengan  pembelajaran sosial emosional dan dimensi profil pelajar pancasila, saya menyimpulkan bahwa profil pelajar pancasila merupakan program pembentukan karakter murid secara umum, sementara KSE adalah program bagaimana murid mampu menggali kesadaran diri dan manajemen emosi untuk mampu membangun relasi yang baik serta membuat keputusan-keputusan yang tepat dan berdasar.
  3. Terkait dengan coaching, maka saya menyimpulkan bahwa kemampuan coachee dalam menggali masalah dan solusi tergantung dari ketajaman pertanyaan yang dibuat oleh coach. Oleh karena itu, saya pengembangan kompetensi coaching bagi coach perlu ditingkatkan, kompetensi tersebut terdiri dari : presense (kehadiran penuh), mendengarkan aktif dan membuat pertanyaan berbobot. 
          Saya mengajar di SMKN Cikalong yang berada di  Dipesisir pantai selatan Kabupaten Tasikmalaya dengan kondisi yang jauh dari perkotaan. Kondisi ini memiliki tantangan tersendiri dalam mengimplementasikan ketiga konsep pembelajaran di atas. Tantangan tersebut diantaranya adalah : 
  1. Tingkat keberagaman disiplin murid yang sangat heterogen. Mulai dari murid yang paling disiplin hingga murid yang paling tidak disiplin. Hal ini sulit dalam mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi ;
  2. Secara umum, kurangnya kepedulian orangtua terhadap perkembangan belajar murid. Sehingga murid belajar selama disekolah saja, diluar sekolah mereka memiliki aktivitas sendiri, seperti : bekerja mencari rumput untuk sapi / domba, manjat kelapa, dan lainnya. Hal ini sulit dalam mengembangkan pembelajaran sosial emosional  ;
  3. Tingkat pemahaman guru tentang visi pembelajaran dengan ketiga konsep di atas yang masih belum seragam, sehingga perlakuan guru kepada murid dalam pengembangan ketiga konsep di atas berbeda ;
  4. Pemahaman guru tentang supervisi akademik yang masih mengira bahwa supervisi adalah mengevaluasi kinerja masih melekat di fikiran sebagian besar guru, sehingga sebagian menolak adanya program supervisi akademik. Hal ini menghambat terlaksananya program coaching. 
       Saya merenung dan mengkaji terkait tantangan-tantangan di atas, maka saya mencoba merumuskan solusi atas tantangan tersebut di antaranya adalah :
  1. Terkait disiplin murid yang sangat heterogen, maka dalam pembelajaran saya mencoba mengelompokan secara mandiri, sehingga setiap murid memiliki rasa dan kecocokan berpasangan dengan temannya yang memiliki karakter sama. Misal yang malas akan mencari teman yang sama-sama malas, sehingga mau tidak mau beban tugas pembelajaran dikerjakan bersama ;
  2. Terkait kekurang pedulian orangtua murid tentang pembelajaran anaknya dirumah, maka dalam membuat tugas dirumah, saya wajibkan adanya refleksi singkat dan tanda tangan orangtua ;
  3. Tentang pemahaman guru tentang konsep pembelajaran berdiferensiasi, sosial emosional dan coaching yang beragam, maka saya sebagai ketua TPMPS mengadakan sosialisasi / diseminasi pemahaman kepada GTK dengan seizin pimpinan.

C. KONEKSITAS PEMBELAJARAN
     Sebelum mengikuti dan memahami ketiga konsep di atas, pembelajaran yang saya lakukan terfokus pada materi dan pengetahuan murid saja. Dahulu, menurut saya pembelajaran itu adalah transfer pengetahuan dari guru ke murid dengan pembelajaran satu arah. Murid harus menerima apa yang diberitahukan, apa yang diperintahkan, apa yang dikatatakan oleh guru. Guru memandang semua murid memiliki kemampuan, bakat dan keinginan sama, sehingga pembelajaran yang dilakukanpun seragam. 
  Namun setelah memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi, sosial emosional dan coaching, maka saya berencana untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran yang mampu menggali potensi seluruh murid dengan menerapkan berbagai strategi pembelajaran. Saya akan berperan sebagai penuntut pembelajaran bagi murid, saya memandang setiap murid memiliki keunikan tersendiri yang perlu saya bantu untuk ditumbuh kembangkan. Saya pun berpandangan bahwa pembelajaran mengarahkan bagaiman murid mampu mengelola dirinya, sehingga setelah mampu mengelola dirinya, maka ia mampu membangun jaringan / relasi sosial yang baik dan pada akhirnya dapat menjadi pemimpin yang mampu merumuskan keputusan-keputusan bijak dan berdasar. Untuk memahami kondisi setiap murid, maka saya akan menggunakan teknik coaching.
   Saya pernah mengikuti pelatihan online terkait dengan pembelajaran berdiferensiasi. Waktu itu ada seorang peserta yang sudah sangat tua dengan penampilan yang sangat sederhana. Beliau memberikan pengalamannya terkait dengan pembelajaran berdiferensiasi. Menurut beliau bahwa setiap guru itu wajib memiliki target / tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, sehingga arah pembelajaran jelas. Soal pembagian kelompok, adalah hal yang tidak terlalu urgent. Penggunaan media pembelajaran tidak harus selalu mewah, bisa menggunakan apa yang ada didalam kelas, bahkan murid sendiri bisa dijadikan sebagai media pembelajaran. Dari sini saya belajar bahwa, pembelajaran berdiferensiasi adalah baik, namun bukan berarti harus menjadikan "semu " tujuan pembelajarannya. Tujuan pembelajarna harus jelas, terukur dan terstruktur, sehingga kita memiliki tolak ukur keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. 
      Saya pernah mempelajari bagaimana konsep pendidikan di Jepang, yang intinya adalah setiap murid diarahkan sejak dini terkait dengan minat dan bakatnya. Misal, anak A berbakat dalam sepakbola, maka sekolah memfasilitasi dan guru menuntun agar anak ini sampai menjadi pemain yang profesional. Menurut saya hal ini sesuai dengna konsep pembelajaran berdiferensiasi.  Kemudian saya membaca bahwa pembelajaran di China, setiap jam istirahat siang murid dibiarkan dan bahkan dipaksa untuk tidur terlebih dahulu, hal ini agar merileksasi fikiran dan fisik murid dalam mengikuti pembelajaran berikutnya. Menurut saya hal ini sejalan dengan konsep KSE. 
        





Kamis, 12 September 2024

Modul 2.2 : Pembelajaran Sosial dan Emosional


Modul 2.2 ini  membahas materi tentang pembelajaran sosial dan emosional. Kegiatan in dilaksanakan dari tanggal 03 September sampai 19 September 2024 sampai September 2024. Alur  kegiatannya adalah : Mulai dari DiriEksplorasi KonsepRuang KolaborasiDemonstrasi Kontekstual, Elaborasi PemahamanKoneksi Antar Materi dan Aksi Nyata (MERDEKA) dengan diakhiri oleh kegiatan pengisian Jurnal Refleksi Dwimingguan                                                                                    

      Mulai dari Diri

Kegiatan ini dilaksanakan  secara mandiri pada tanggal 03 September  2024 dengan mempelajari   modul. . Modul dan rangkuman materi yang saya susun dapat dilihat disini

 

Eksplorasi Konsep 
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 04 dan 05 September 2024. Bentuk kegiatannya adalah mengeksplorasi materi tentang bagaimana guru mampu merancang, melaksanakan dan menilai pembelajaran berdiferensiasi. Disajikan video dan referensi bacaan sebagai referensi mempertajam pemahaman terkait materi. Hasil pengerjaan tugas dapat dilihat disini.

 

Ruang Kolaborasi
Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan bimbingan fasilitator dan pengajar praktik pada tanggal 06 dan 09 September 2024, untuk due date pengumpulan tugas tanggal 12 September 2024.  Bentuk kegiatannya adalah  berdiskusi dalam satu kelompok kecil terkait soal / skenario pembelajaran sosial dan emosional (Skema SMK), kemudian dipresentasikan dalam satu kelas untuk ditanggapi kelompok lain. Presentasi bergiliran dengan kelompok lain.  Hasil kegiatannya dapat dilihat disini

 

Demonstrasi Kontekstual  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 10 dan 11 September  2024, due date pengumpulan tugas pada tanggal 17 September 2024. Bentuk kegiatannya adalah membuat rencana pembelajaran yang berbasis kompetensi sosial dan emosional. Hasilnya dapat dilihat disini.

 

Elaborasi Pemahaman
Kegiatan ini dilaksanakan bersama instruktur pada tanggal 13 September  2024. Bentuk kegiatannya adalah membangun kerangka berfikir tentang modul. Tidak ada penugasan pada tahap ini. 

 

Koneksi Antar Materi  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 12 dan 13 September  2024. due date pengumpulan tugas pada tanggal 19 September 2024. Bentuk kegiatannya adalah membuat konsep keterkaitan materi dengan konsep di LMS.  Laporan koneksi antar materi dapat dilihat  disini. 


Aksi Nyata   
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada LMS paling lambat tanggal 17 September 2024.  Bentuk kegiatannya adalah melakukan refleksi dan diskusi langsung di LMS, sehingga tidak ada laporan perlu di unggah. . 

 

Jurnal Dwimingguan  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 14 September  2024. Bentuk kegiatannya adalah merefleksikan kegiatan selama 2 minggu dalam mempelajari modul 2.2. Jurnal refleksnya dapat dilihat disini.

Sabtu, 31 Agustus 2024

Modul 2.1 : Pembelajaran Berdiferensiasi

Modul 2.1 ini  membahas materi tentan pembelajaran berdirensiasi. Kegiatan in dilaksanakan dari tanggal 20 Agustus 2024 sampai September 2024. Alur  kegiatannya adalah : Mulai dari DiriEksplorasi KonsepRuang KolaborasiDemonstrasi Kontekstual, Elaborasi PemahamanKoneksi Antar Materi dan Aksi Nyata (MERDEKA) dengan diakhiri oleh kegiatan pengisian Jurnal Refleksi Dwimingguan                                                                                    

     Pre-Test Paket Modul 2

         Kegiatan ini dilaksanakan  secara mandiri pada tanggal 20 Agustus 2024.

      Mulai dari Diri

Kegiatan ini dilaksanakan  secara mandiri pada tanggal 20 Agustus  2024 dengan mempelajari   modul. . Modul dan rangkuman materi yang saya susun dapat dilihat disini

 

Eksplorasi Konsep 
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 21 dan 22 Agustus 2024. Bentuk kegiatannya adalah mengeksplorasi materi tentang bagaimana guru mampu merancang, melaksanakan dan menilai pembelajaran berdiferensiasi. Disajikan video dan referensi bacaan sebagai referensi mempertajam pemahaman terkait materi. Hasil pengerjaan tugas dapat dilihat disini.

 

Ruang Kolaborasi
Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan bimbingan fasilitator dan pengajar praktik pada tanggal 23 dan 27 Agustus 2024, untuk due date pengumpulan tugas tanggal 29 Agustus 2024.  Bentuk kegiatannya adalah  berdiskusi dalam satu kelompok kecil terkait soal / skenario pembelajaran berdiferensiasi (Skema SMK), kemudian dipresentasikan dalam satu kelas untuk ditanggapi kelompok lain. Presentasi bergiliran dengan kelompok lain.  Hasil kegiatannya dapat dilihat disini

 

Demonstrasi Kontekstual  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 27 dan 28 Agustus 2024, due date pengumpulan tugas pada tanggal 02 September 2024. Bentuk kegiatannya adalah membuat rencana pembelajaran yang berbasis diferensiasi. Hasilnya dapat dilihat disini.

 

Elaborasi Pemahaman
Kegiatan ini dilaksanakan bersama instruktur pada tanggal 20 Agustus  2024. Bentuk kegiatannya adalah membangun kerangka berfikir tentang modul. Tidak ada penugasan pada tahap ini. 

 

Koneksi Antar Materi  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 29 dan 30 Agustus 2024. due date pengumpulan tugas pada tanggal 04 September 2024. Bentuk kegiatannya adalah membuat konsep keterkaitan materi sebelumnya dengan materi yang sedang dibahas.  Laporan koneksi antar materi dapat dilihat  disini. 


Aksi Nyata   
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri dilaporkan pada LMS paling lambat tanggal 02 September 2024.  Bentuk kegiatannya adalah menelaah rencana pembelajaran yang pernah dibuat, apakah sudah menggambarkan pembelajaran berdiferensiasi atau belum. Laporan hasil kegiatannya dapat dilihat disini. 

 

Jurnal Dwimingguan  
Kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri pada tanggal 31 Agustus  2024. Bentuk kegiatannya adalah merefleksikan kegiatan selama 2 minggu dalam mempelajari modul 2.1. Jurnal refleksnya dapat dilihat disini.

Sabtu, 17 Agustus 2024

KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1

  A.  KESIMPULAN 

Setelah saya menuntaskan mempelajari modul 1 tentang paradigma dan visi guru penggerak pada program guru penggerak ini, maka saya menyimpulkan bahwa :

  1. Budaya Positif terwujud dari Pembiasaan Disiplin Positif ;
  2. Disiplin Positif tercipta dari Pribadi Positif ;
  3. Pribadi Positif terlahir dari Pendidikan yang Bermutu;
  4. Pendidikan Bermutu terlaksana dari sistem, visi dan Guru yang Bermutu;
  5. Sistem, Visi dan Guru bermutu berorientasi pada kebutuhan belajar murid.

Intinya adalah bila kita memikirkan dan membangun pendidikan, maka pada dasarnya adalah membangun sumber daya manusia (murid) yang bermutu, sehingga sistem, visi, program dan pelaksanaan pembelajaran harus berorientasi pada kebutuhan belajar murid. 

Saya sebagai guru harus memahami konsep dasar pendidikan, yaitu menuntun murid bukan menuntut serta bagaimana menciptakan suasana merdeka belajar bagi murid. Kita fahami bahwa setiap murid memiliki karakter dan potensi yang berbeda, maka tugas saya  mengarahkannya pada hal positif dan mengembangkannya menjadi suatu keunggulan bagi murid. Menciptakan suasana merdeka belajar bukan berarti "meng iyakan" apa yang dimau oleh murid, namun kita memberikan kebebasan bagi murid untuk mengekspresikan potensi yang dimilikinya serta kita mengarahkannya pada hal positif. 

Agar saya menjadi guru bermutu, maka saya haruslah memahami nilai, peran dan kompetensi dasar seorang guru. Selelah memahami, saya melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. berikut adalah beberapa nilai guru penggerak yang saya fahami : 

  1. Mandiri, artinya saya harus mampu secara mandiri menyelesaikan tugas saya serta mampu mengembangkan diri terkait dengan kompetensi seorang guru melalui belajar sepanjang hayat ;
  2. Reflektif, artinya saya harus mampu merefleksikan setiap kegiatan yang saya lakukan, sehingga menjadi dasar perbaikan dan pengembangan diri saya;
  3. Kolaboratif, artinya saya harus mampu bekerjasama secara aktif dalam membangun program sekolah ;
  4. Inovatif, artinya saya harus mampu membuat terobosan-terobosan baru yang baik dan menarik dalam menciptakan budaya positif di sekolah;
  5. Berpihak pada murid, artinya seluruh perencanaan, pembelajaran dan program sekolah harus berorientasi pada kebutuhan belajar murid.

Sementara peran saya sebagai guru penggerak diantaranya adalah : 

  1. Menjadi pemimpin dalam pembelajaran, artinya saya harus mampu mengelola kelas, sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan;
  2. Menggerakan komunitas praktisi, artinya saya harus mampu mengelola dan menggerakan komunitas praktisi pendidikan  dilingkungan sekolah, minimla dalam komunitas praktisi guru mata pelajaran disekolah;
  3. Menjadi coach bagi guru lain, artinya saya harus memiliki suatu kemampuan yang diunggulkan, sehingga saya menjadi coach bagi guru lain. Semakin banyak keunggulan diri, maka saya semakin bermanfaat bagi guru lain;
  4. Mendorong kolaborasi antar guru, artinya saya harus mampu mengelola kerjasama tim, mulai dari pengorganisasian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi terkait program perubahan bagi sekolah ;
  5. Memajukan kepemimpinan murid, artinya saya harus mampu menuntun murid untuk mampu tampil dan mengekspresikan potensi dirinya.
Kompetensi sebagai seorang guru yang harus saya fahami diantaranya adalah : 
  1. Pedagogik, artinya saya harus memahami bagaimana cara mengajar yang baik, sistematis dan mudah untuk difahami oleh murid ;
  2. Kepribadian, artinya saya harus memiliki dedikasi dan integritas yang baik dengan menampilkan nilai-nilai kebajikan serta memegang teguh kode etik guru;
  3. Sosial, artinya saya harus peka terhadap perkembangan zaman serta mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Setelah saya memahami konsep pendidikan, kemudian guru bermutu (nilai, peran dan kompetensi) maka selanjutnya saya harus mampu melihat potensi yang ada untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang unggul. Sehingga sebagai guru saya mampu merumuskan visi sekaligus prakarsa perubahannya secara konkret, detail, terukur dan perprogram. 

Program perubahan dimaksud di atas, dalam konteks pelaksanaan kegiatan sehari-hari harus mencerminkan suatu sikap / kegiatan yang terbiasa (habituasi). Dalam praktiknya, saya sebagai guru menemukan budaya negatif yang ada di sekolah, misalnya budaya telat masuk kelas. Untuk merubah budaya negatif menjadi positif ini dibutuhkan suatu strategi yang efektif. Kita menyadari bahwa secara umum generasi Z adalah generasi yang cepat berubah serta tidak mau disalahkan. Maka konsep perubahan yang diperlukan bisa menerapkan teori kontrol, artinya perubahan dibangun berdasarkan kesadaran dari dalam diri (intrinsik) bukan dari faktor paksaan. 

Secara teknis penerapannya bisa dilakukan sebagai berikut : 
  1. Saya harus memenuhi 5 kebutuhan dasar  murid terkait pembelajaran ;
  2. Posisikan diri saya sebagai manajer ;
  3. Terapkan segitiga restitusi dalam menangani murid bermasalah ;
  4. Bangun keyakinan kelas secara bersama ;
  5. Murid diberikan pemahaman, bahwa segala hal yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita, sehingga mereka termotivasi untuk melakukan kebajikan yang niatnya untuk perbaikan diri, bukan karena takut dihukum atau menginginkan hadiah ;
  6. Laksanakan keyakinan kelas dan kebajikan itu sehingga terwujud disiplin positif ;
  7. Lakukan disiplin positif secara terus menerus sehingga menjadi budaya positif. 

B.  REFLEKSI

  1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan

Yang saya fahami terkait materi budaya positif ini intinya adalah menerapkan teori kontrol, yaitu bagaimana membangun budaya positif murid yang bersumber dari kesadaran dan keyakinan dalam diri murid itu sendiri intrinsi tanpa ada paksaan dari siapapun. Gambaran pemahamannya sebagai berikut : 
  1. Disiplin positif adalah suatu sikap baik yang mencerminkan nilai-nilai kebajikan. Nilai-nilai kebajikan diantaranya tergambar pada profil pelajar pancasila ;
  2. Teori kontrol adalah bagaimana murid mampu melakukan perubahan bersifat positif;
  3. Motivasi murid dalam melaksanakan kebajikan yang baik bersumber pada keyakinan dirinya bahwa kebajikan itu adalah kebutuhannya sebagai manusia. Motivasi muncul bukan karena mengharap penghargaan atau menghindari hukuman;
  4. Posisi kontrol guru yang terbaik adalah sebagai "manajer", karena ia akan mampu melihat kekurangan sekaligus kelebihan murid serta mengarahkan kesalahan murid untuk diubah menjadi baik atas dasar kesadaran dan keyakinan murid itu sendiri ;
  5. Kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi agar murid fokus dalam mengikuti pembelajaran. Jadikan murid tidak punya alasan untuk tidak fokus belajar, karena semua kebutuhan belajarnya terpenuhi. Kebutuhan dimaksud diantaranya : bertahan hidup, kasih sayang, kekuasaan, kebebasan dan kesenangan ;
  6. Keyakinan kelas adalah bentuk kesepakatan kelas yang bersifat positif, mengarahkan murid untuk sadar terhadap nilai-nilai kebajikan ;
  7. Segitiga restitusi adalah metode perbaikan diri dengan mengarahkan perbaikan itu bersumber dari dalam diri sipelaku. Tahapannya dimulai dari : menstabilkan identitas, memvalidasi kesalaha, mengkonfirmasi keyakinan.
Hal yang paling menarik mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif ini adalah bagaimana merubah kesalahan  menjadi sebuah perbaikan diri atas kesadaran pelaku serta menjadi keyakinan positif yang diterapkan dalam keseharian (disiplin positif). Disiplin positif ini bila dibiasakan akan menjadi budaya positif. Saya menyimpulkannya bahwa dibutuhkan pendekatan psikologis dan komunikasi. 

2.  Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam
      menciptakan budaya positif di  kelas maupun sekolah Anda setelah
      mempelajari modul ini?

Perubahan yang paling mendasar adalah merubah pola hukuman menjadi restitusi. 


3. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait
    penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di
    lingkup kelas maupun sekolah Anda?

  • Pengalaman dalam lingkup kelas diantaranya penerapan "kesepakatan kelas", yang melahirkan "konsekuensi" atas pelanggarannya;
  • Pengalaman dalam lingkup sekolah dalam memimpin perumusan visi dan misi sekolah yang berpihak pada kebutuhan belajar murid dan diantara misinya adalah budaya on time dan full time ;

4. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?
  • Pengalaman dalam lingkup kelas : awalnya saya merasa berhasil, karena adanya peningkatan kedisiplinan masuk kelas ketika pelajaran saya. Namun ada juga murid yang tetap "membandel", akhirnya kesepakatan kelas ini seolah kurang kuat dan mengakibatkan murid lainnya berfikiran sama untuk tidak disiplin;
  • Pengalaman dalam lingkup sekolah : saya senang karena bisa berperan aktif dalam perumusan visi, namun dalam tahap implementasi visi masih banyak kekurangannya.

5. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep
     tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu
     diperbaiki?

  • Hal yang sudah baik adalah adanya langkah-langkah restitusi yang dijalankan,namun belum sampai tuntas ;
  • Hal yang perlu diperbaiki adalah penyelesaian langkah restitusi sampai bagaiamana pelaku kesalahan menyadari kesalahannya dan mampu membentuk keyakinan positif dalam dirinya. 

6. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid,
    berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda
    pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari
    modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda
    sekarang? Apa perbedaannya? 

  • Sebelum mempelari modul ini, posisi kontrol saya sebagai guru adalah penghukum dan membuat merasa bersalah. Perasaan saya dengan posisi ini tidak nyaman, karena seolah saya semakin menjaga jarak dengan murid. Pernah beberapakali sebagai pemantau dengan membuat kesepatakan kelas, namun kesepakatan kelas hanya bertahan beberapa minggu. 
  • Setelah mempelajari modul ini, posisi kontrol saya sebagai guru berusaha pada posisi manajer. Saya berusaha melakukan pendekatan persuasif pada murid yang melanggar, serta pendekatan psikologis untuk mengetahui kebutuhan dasar apa yang belum dipenuhinya, kemudian merumuskan strategi dalam menyusun langkah segitiga restitusinya. 

7. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan
    segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika
    iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda
    mempraktekkannya?

Pernah sampai pada tahap memvalidasi kesalahan. Memvalidasi kesalahan dikaitkan dengan kesepakatan kelas yang telah dibuat, sehingga murid dikenakan konsekuensi. Misalnya, kesepakatan kelas ketika pelajaran saya adalah tidak boleh telat masuk kelas lebih dari 5 menit dan bila melanggar, maka secara otomatis murid belajar diluar kelas. Hal ini berdampak pada kedisiplinan murid, namun tidak menjadikan murid menyadari pentingnya disiplin waktu, sehingga sesekali beberapa orang masih saha melanggar. 

8. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah
   hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses
   menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Menurut saya penerapan segitiga restitusi dalam menciptakan budaya positif tidak bisa disamaratakan bagi semua jenjang pendidikan, lingkungan satuan pendidikan dan kondisi satuan pendidikan. Segitiga restitusi adalah metode baik dalam membangun kesadaran diri untuk menjadi lebih baik, namun terkadang di tempat dan pada situasi tertentu hal ini sulit untuk dibentuk. Menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan disiplin positif, khususnya disatuan pendidikan saya : 
  • Adanya kesadaran bersama antara pihak pemerintah, sekolah dan masyarakat terkait pentingnya penyelenggaraan pendidikan bermutu berbasis kedisiplinan. Ruang kolaborasi ini penting untuk membahas kondisi dan permasalahan yang ada disekolah untuk merumuskan solusinya secara bersama-sama;
  • Hal terpenting lainnya adalah bagaimana guru fokus pembelajaran di sekolah. Dalam hal ini misalnya, bagaimana pemerintah memberikan hak-hak kepegawaian lainnya bagi guru.