Sabtu, 17 Agustus 2024

KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1

  A.  KESIMPULAN 

Setelah saya menuntaskan mempelajari modul 1 tentang paradigma dan visi guru penggerak pada program guru penggerak ini, maka saya menyimpulkan bahwa :

  1. Budaya Positif terwujud dari Pembiasaan Disiplin Positif ;
  2. Disiplin Positif tercipta dari Pribadi Positif ;
  3. Pribadi Positif terlahir dari Pendidikan yang Bermutu;
  4. Pendidikan Bermutu terlaksana dari sistem, visi dan Guru yang Bermutu;
  5. Sistem, Visi dan Guru bermutu berorientasi pada kebutuhan belajar murid.

Intinya adalah bila kita memikirkan dan membangun pendidikan, maka pada dasarnya adalah membangun sumber daya manusia (murid) yang bermutu, sehingga sistem, visi, program dan pelaksanaan pembelajaran harus berorientasi pada kebutuhan belajar murid. 

Saya sebagai guru harus memahami konsep dasar pendidikan, yaitu menuntun murid bukan menuntut serta bagaimana menciptakan suasana merdeka belajar bagi murid. Kita fahami bahwa setiap murid memiliki karakter dan potensi yang berbeda, maka tugas saya  mengarahkannya pada hal positif dan mengembangkannya menjadi suatu keunggulan bagi murid. Menciptakan suasana merdeka belajar bukan berarti "meng iyakan" apa yang dimau oleh murid, namun kita memberikan kebebasan bagi murid untuk mengekspresikan potensi yang dimilikinya serta kita mengarahkannya pada hal positif. 

Agar saya menjadi guru bermutu, maka saya haruslah memahami nilai, peran dan kompetensi dasar seorang guru. Selelah memahami, saya melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. berikut adalah beberapa nilai guru penggerak yang saya fahami : 

  1. Mandiri, artinya saya harus mampu secara mandiri menyelesaikan tugas saya serta mampu mengembangkan diri terkait dengan kompetensi seorang guru melalui belajar sepanjang hayat ;
  2. Reflektif, artinya saya harus mampu merefleksikan setiap kegiatan yang saya lakukan, sehingga menjadi dasar perbaikan dan pengembangan diri saya;
  3. Kolaboratif, artinya saya harus mampu bekerjasama secara aktif dalam membangun program sekolah ;
  4. Inovatif, artinya saya harus mampu membuat terobosan-terobosan baru yang baik dan menarik dalam menciptakan budaya positif di sekolah;
  5. Berpihak pada murid, artinya seluruh perencanaan, pembelajaran dan program sekolah harus berorientasi pada kebutuhan belajar murid.

Sementara peran saya sebagai guru penggerak diantaranya adalah : 

  1. Menjadi pemimpin dalam pembelajaran, artinya saya harus mampu mengelola kelas, sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan;
  2. Menggerakan komunitas praktisi, artinya saya harus mampu mengelola dan menggerakan komunitas praktisi pendidikan  dilingkungan sekolah, minimla dalam komunitas praktisi guru mata pelajaran disekolah;
  3. Menjadi coach bagi guru lain, artinya saya harus memiliki suatu kemampuan yang diunggulkan, sehingga saya menjadi coach bagi guru lain. Semakin banyak keunggulan diri, maka saya semakin bermanfaat bagi guru lain;
  4. Mendorong kolaborasi antar guru, artinya saya harus mampu mengelola kerjasama tim, mulai dari pengorganisasian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi terkait program perubahan bagi sekolah ;
  5. Memajukan kepemimpinan murid, artinya saya harus mampu menuntun murid untuk mampu tampil dan mengekspresikan potensi dirinya.
Kompetensi sebagai seorang guru yang harus saya fahami diantaranya adalah : 
  1. Pedagogik, artinya saya harus memahami bagaimana cara mengajar yang baik, sistematis dan mudah untuk difahami oleh murid ;
  2. Kepribadian, artinya saya harus memiliki dedikasi dan integritas yang baik dengan menampilkan nilai-nilai kebajikan serta memegang teguh kode etik guru;
  3. Sosial, artinya saya harus peka terhadap perkembangan zaman serta mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Setelah saya memahami konsep pendidikan, kemudian guru bermutu (nilai, peran dan kompetensi) maka selanjutnya saya harus mampu melihat potensi yang ada untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang unggul. Sehingga sebagai guru saya mampu merumuskan visi sekaligus prakarsa perubahannya secara konkret, detail, terukur dan perprogram. 

Program perubahan dimaksud di atas, dalam konteks pelaksanaan kegiatan sehari-hari harus mencerminkan suatu sikap / kegiatan yang terbiasa (habituasi). Dalam praktiknya, saya sebagai guru menemukan budaya negatif yang ada di sekolah, misalnya budaya telat masuk kelas. Untuk merubah budaya negatif menjadi positif ini dibutuhkan suatu strategi yang efektif. Kita menyadari bahwa secara umum generasi Z adalah generasi yang cepat berubah serta tidak mau disalahkan. Maka konsep perubahan yang diperlukan bisa menerapkan teori kontrol, artinya perubahan dibangun berdasarkan kesadaran dari dalam diri (intrinsik) bukan dari faktor paksaan. 

Secara teknis penerapannya bisa dilakukan sebagai berikut : 
  1. Saya harus memenuhi 5 kebutuhan dasar  murid terkait pembelajaran ;
  2. Posisikan diri saya sebagai manajer ;
  3. Terapkan segitiga restitusi dalam menangani murid bermasalah ;
  4. Bangun keyakinan kelas secara bersama ;
  5. Murid diberikan pemahaman, bahwa segala hal yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita, sehingga mereka termotivasi untuk melakukan kebajikan yang niatnya untuk perbaikan diri, bukan karena takut dihukum atau menginginkan hadiah ;
  6. Laksanakan keyakinan kelas dan kebajikan itu sehingga terwujud disiplin positif ;
  7. Lakukan disiplin positif secara terus menerus sehingga menjadi budaya positif. 

B.  REFLEKSI

  1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan

Yang saya fahami terkait materi budaya positif ini intinya adalah menerapkan teori kontrol, yaitu bagaimana membangun budaya positif murid yang bersumber dari kesadaran dan keyakinan dalam diri murid itu sendiri intrinsi tanpa ada paksaan dari siapapun. Gambaran pemahamannya sebagai berikut : 
  1. Disiplin positif adalah suatu sikap baik yang mencerminkan nilai-nilai kebajikan. Nilai-nilai kebajikan diantaranya tergambar pada profil pelajar pancasila ;
  2. Teori kontrol adalah bagaimana murid mampu melakukan perubahan bersifat positif;
  3. Motivasi murid dalam melaksanakan kebajikan yang baik bersumber pada keyakinan dirinya bahwa kebajikan itu adalah kebutuhannya sebagai manusia. Motivasi muncul bukan karena mengharap penghargaan atau menghindari hukuman;
  4. Posisi kontrol guru yang terbaik adalah sebagai "manajer", karena ia akan mampu melihat kekurangan sekaligus kelebihan murid serta mengarahkan kesalahan murid untuk diubah menjadi baik atas dasar kesadaran dan keyakinan murid itu sendiri ;
  5. Kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi agar murid fokus dalam mengikuti pembelajaran. Jadikan murid tidak punya alasan untuk tidak fokus belajar, karena semua kebutuhan belajarnya terpenuhi. Kebutuhan dimaksud diantaranya : bertahan hidup, kasih sayang, kekuasaan, kebebasan dan kesenangan ;
  6. Keyakinan kelas adalah bentuk kesepakatan kelas yang bersifat positif, mengarahkan murid untuk sadar terhadap nilai-nilai kebajikan ;
  7. Segitiga restitusi adalah metode perbaikan diri dengan mengarahkan perbaikan itu bersumber dari dalam diri sipelaku. Tahapannya dimulai dari : menstabilkan identitas, memvalidasi kesalaha, mengkonfirmasi keyakinan.
Hal yang paling menarik mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif ini adalah bagaimana merubah kesalahan  menjadi sebuah perbaikan diri atas kesadaran pelaku serta menjadi keyakinan positif yang diterapkan dalam keseharian (disiplin positif). Disiplin positif ini bila dibiasakan akan menjadi budaya positif. Saya menyimpulkannya bahwa dibutuhkan pendekatan psikologis dan komunikasi. 

2.  Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam
      menciptakan budaya positif di  kelas maupun sekolah Anda setelah
      mempelajari modul ini?

Perubahan yang paling mendasar adalah merubah pola hukuman menjadi restitusi. 


3. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait
    penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di
    lingkup kelas maupun sekolah Anda?

  • Pengalaman dalam lingkup kelas diantaranya penerapan "kesepakatan kelas", yang melahirkan "konsekuensi" atas pelanggarannya;
  • Pengalaman dalam lingkup sekolah dalam memimpin perumusan visi dan misi sekolah yang berpihak pada kebutuhan belajar murid dan diantara misinya adalah budaya on time dan full time ;

4. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?
  • Pengalaman dalam lingkup kelas : awalnya saya merasa berhasil, karena adanya peningkatan kedisiplinan masuk kelas ketika pelajaran saya. Namun ada juga murid yang tetap "membandel", akhirnya kesepakatan kelas ini seolah kurang kuat dan mengakibatkan murid lainnya berfikiran sama untuk tidak disiplin;
  • Pengalaman dalam lingkup sekolah : saya senang karena bisa berperan aktif dalam perumusan visi, namun dalam tahap implementasi visi masih banyak kekurangannya.

5. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep
     tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu
     diperbaiki?

  • Hal yang sudah baik adalah adanya langkah-langkah restitusi yang dijalankan,namun belum sampai tuntas ;
  • Hal yang perlu diperbaiki adalah penyelesaian langkah restitusi sampai bagaiamana pelaku kesalahan menyadari kesalahannya dan mampu membentuk keyakinan positif dalam dirinya. 

6. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid,
    berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda
    pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari
    modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda
    sekarang? Apa perbedaannya? 

  • Sebelum mempelari modul ini, posisi kontrol saya sebagai guru adalah penghukum dan membuat merasa bersalah. Perasaan saya dengan posisi ini tidak nyaman, karena seolah saya semakin menjaga jarak dengan murid. Pernah beberapakali sebagai pemantau dengan membuat kesepatakan kelas, namun kesepakatan kelas hanya bertahan beberapa minggu. 
  • Setelah mempelajari modul ini, posisi kontrol saya sebagai guru berusaha pada posisi manajer. Saya berusaha melakukan pendekatan persuasif pada murid yang melanggar, serta pendekatan psikologis untuk mengetahui kebutuhan dasar apa yang belum dipenuhinya, kemudian merumuskan strategi dalam menyusun langkah segitiga restitusinya. 

7. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan
    segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika
    iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda
    mempraktekkannya?

Pernah sampai pada tahap memvalidasi kesalahan. Memvalidasi kesalahan dikaitkan dengan kesepakatan kelas yang telah dibuat, sehingga murid dikenakan konsekuensi. Misalnya, kesepakatan kelas ketika pelajaran saya adalah tidak boleh telat masuk kelas lebih dari 5 menit dan bila melanggar, maka secara otomatis murid belajar diluar kelas. Hal ini berdampak pada kedisiplinan murid, namun tidak menjadikan murid menyadari pentingnya disiplin waktu, sehingga sesekali beberapa orang masih saha melanggar. 

8. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah
   hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses
   menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Menurut saya penerapan segitiga restitusi dalam menciptakan budaya positif tidak bisa disamaratakan bagi semua jenjang pendidikan, lingkungan satuan pendidikan dan kondisi satuan pendidikan. Segitiga restitusi adalah metode baik dalam membangun kesadaran diri untuk menjadi lebih baik, namun terkadang di tempat dan pada situasi tertentu hal ini sulit untuk dibentuk. Menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan disiplin positif, khususnya disatuan pendidikan saya : 
  • Adanya kesadaran bersama antara pihak pemerintah, sekolah dan masyarakat terkait pentingnya penyelenggaraan pendidikan bermutu berbasis kedisiplinan. Ruang kolaborasi ini penting untuk membahas kondisi dan permasalahan yang ada disekolah untuk merumuskan solusinya secara bersama-sama;
  • Hal terpenting lainnya adalah bagaimana guru fokus pembelajaran di sekolah. Dalam hal ini misalnya, bagaimana pemerintah memberikan hak-hak kepegawaian lainnya bagi guru.

0 comments:

Posting Komentar